Material Kabel
Bahan – bahan penyusun kabel merupakan komponen penting yang membuat suara yang dihasilkan bisa berbeda satu sama lain. Bahan utama sebuah kabel adalah tembaga. Tapi umumnya tembaga yg tersedia tidak murni. Kesulitan yang akan timbul dari tembaga tak murni adalah, mudah teroksidasi jika mendapat kontak dengan udara. Untuk menghindarinya, beberapa pabrik pembuat kabel memberi label OFC atau Oxygen Free Cable. Maknanya kabel itu memiliki pembungkus yang sangat baik sehingga oksigen tidak dapat masuk sampai ke bagian tengah kabel. Pernah melihat kabel speaker yang sudah berumur satu tahun dan berwarna hitam agak kehijauan, itulah tandanya oksigen dapat masuk ke bagian tengah kabel. Konduktor sebagai media penghantar listrik memiliki peran yang besar dalam menentukan kualitas kabel. Bahan konduktor yang sering dipakai untuk kabel audio dapat dijabarkan sebagi berikut:
• Tough Pitch Copper/Silver
Adalah bahan konduktor yang umum dipakai untuk kabel listrik.
Jenis konduktor ini adalah jenis yang paling murah dan kualitas
yang kurang baik untuk sinyal audio.
• Metal Alloy Conductor
Adalah bahan konduktor dengan campuran yang unik. –– Oxygene Free Silver
• Oxygen Free Copper [OFC]
Adalah bahan konduktor copper/silver dengan kadar Oksigen
yang rendah.
• Silver plated OFC
Bahan konduktor copper bebas oksigen yang dilapisi silver.
• Ohno Continous Casting Copper/Silver
Adalah bahan konduktor copper/silver yang diproses khusus
sehingga menghasilkan butir mono kristal dengan tingkat
kemurnian tertinggi saat ini.
Untuk menghindari oksidasi, pabrik melapisi tembaga dengan seng. Namun suara yang dihasilkan sangat tajam dengan ton rendah yang kurang solid. Tapi anehnya, kabel seperti ini memperkuat sinyal secara keseluruhan. Sehingga, ketika kita membaca meter yg ada di mixer, sinyal bisa naik hampir 20 % dibandingkan dengan kabel tembaga murni. Contoh kabel mikrofon yang berlapis seng antara lain : Klotz Quad SQ422, Belden 8760, dan Belden 8761. Sedangkan untuk kabel speaker, Belden 8470.
Geometri pada kabel berperan sebagai ground, mengurangi problem skin efek, bunching efek dan lain –lain.
Dalam kabel audio kita mengenal beberapa geometri kabel seperti: Kabel solid, Kabel serabut, Kumpulan kabel serabut dengan geometri tertentu, penampang bundar, penampang gepeng, penampang hollow-oval dll. Bahan Insulasi atau sering disebut dielektrik berfungsi sebagai pelindung konduktor, menghalau sinyal radio frekuensi, mengurangi problem skin efek, dll. Kita mengenal beberapa bahan insulasi yang sering di pakai di kabel audio: PVC, Plastic, FPE, PP, Teflon dll
Tampilkan postingan dengan label Sound System. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sound System. Tampilkan semua postingan
Senin, 19 Maret 2012
Sabtu, 17 Maret 2012
Kabel Sound System
Jenis kabel dibagi berdasarkan fungsinya. Adapun jenis-jenisnya dipaparkan di bawah ini.
a. Kabel Yang Dialiri Arus / Kabel Power
• Kabel yang dialiri arus untuk menyalakan perangkat audio
disebut kabel strom kabel power.
• Tanpa kabel strom, perangkat audio sebaik apapun tidak dapat
menyala.
• Sinyal yang melalui kabel strom ini diubah oleh perangkat audio
menjadi sinyal suara. Oleh karena itu kemurnian sinyal yang
dialirkan dengan kabel strom sangat mempengaruhi kualitas
suara yang dihasilkan oleh perangkat audio.
• Faktor yang mengurangi kemurnian sinyal adalah EMI (Electro
Magnetic Interference) dan RFI (Radio Frequency Interference).
Contoh: handphone walaupun dalam posisi standby tetap
mencari sinyal sehingga mengeluarkan RFI.
• Untuk mendapatkan kualitas suara yang baik, mulailah dari
awal yaitu kabel strom yang baik.
b. Kabel Digital
• Kabel yang dialiri oleh sinyal digital disebut kabel digital.
• Sinyal digital diambil dari CD/DVD Player sebelum dikonversi ke
analag oleh DAC (Digital to Analog Converter) dalam head unit.
• Ada 2 jenis kabel digital yang sering digunakan, yaitu: SPDIF dan
TOS-LINK.
• Kabel digital format S-PDIF unggul dalam hal kualitas suara (lebih
berkesan analog) tetapi panjang maximum-nya 2 meter. Apabila
dipaksakan lebih dari 2 meter, maka sinyal digital melalui S-PDIF
cacat dan dapat menyebabkan kerusakan pada head unit
ataupun prosesor.
• Kabel digital format Toslink memang kalah dalam hal kualitas
suara namun panjangnya bisa sampai 6 meter atau bahkan lebih.
c. Kabel Interconnect
• Sinyal analog yang keluar dari prosesor atau head unit adalah
sinyal tegangan rendah atau sering disebut ‘sinyal arus lemah’.
Kabel yang digunakan untuk mengalirkan sinyal arus lemah ini
menuju amplifier disebut kabel interconnect.
• Ada 2 jenis kabel interconnect yang sering digunakan, yaitu kabel
interconnect format Balance dan Unbalance.
• Kabel Unbalance terdiri dari 2 kabel utama, yaitu: kabel untuk
sinyal suara positif dan kabel untuk sinyal suara negatif yang
digabung dengan ground.
• Terminasi kabel unbalance umumnya menggunakan model RCA
namun bisa juga menggunakan model XLR.
• Desain kabel Unbalance lebih sederhana dibandingkan Balance
sehingga banyak digunakan di ‘audio mobil’ dan ‘audio rumah
high-end’.
• Kabel Balance terdiri dari 3 kabel utama, yaitu: kabel untuk sinyal
suara positif, kabel untuk sinyal suara negatif, dan kabel untuk
ground. Oleh karena sinyal suara negatip tidak ‘menumpang’
pada ground. Sinyal suara lebih murni dan tidak mudah
terinduksi. Dengan kata lain, hasil suara kabel balance lebih baik
dibandingkan dengan kabel unbalance.
• Terminasi kabel balance menggunakan model XLR dan tidak bisa
menggunakan model RCA. Keunggulan dari terminasi model XLR
adalah sifat koneksi yang lebih paten dengan sistem ‘click’
• Kabel balance banyak digunakan di ‘pro-audio’ (untuk panggung
atau cafĂ©) dan mulai digunakan di ‘audio rumah high-end’
maupun ‘audio mobil high-end’.
d. Kabel Speaker
• Sinyal keluaran amplifier adalah sinyal dengan arus tinggi dan
sering disebut ‘sinyal arus kuat’.
• Kabel yang digunakan untuk mengalirkan sinyal arus kuat
disebut kabel speaker.
• Oleh karena kabel speaker mengalirkan sinyal arus kuat, maka
ukuran kabel speaker lebih besar dibandingkan kabel
interconnect.
e.Kabel Mikropon
Kabel untuk mikrofon terdiri dari dua jenis. Begitu juga dengan kabel balance, yaitu kabel mikrofon standar terdiri atas tiga kabel, yaitu shield ( ground/pelindung ), kabel untuk kutub positip, dan kabel untuk kutub negatip. Sedangkan di dalam kabel mikropon quad berisi lima kabel, yakni shield, dua kabel untuk kutub positip dan dua kabel kutub negatip.
Kabel mikropon standard dari canare, seperti L2-T2S, terdiri atas dua kabel dalam berwarna biru putih. Isi kedua kabel tersebut masing-masing 60 kawat tipis. Kedua kabel itu dibungkus dengan rajutan kawat yang cukup rapat, berfungsi menolak noise dari luar. Kabel tipe ini sangat fleksibel dan kuat. Lapisan plastik pembungkus luar kabel terbuatdari PVC ( Polivinyl Chlorida ). Demikian pula untuk pembungkus ke dua kabel bagian dalamnya
Bagi yang baru belajar menyolder kabel, kabel ini cukup baik dan tahan panas. Sehingga, tidak perlu khawatir lapisan kabel tersebut meleleh karena terlalu lama menempelkan solder. Tapi jika terlalu lama, tetap akan meleleh juga. Selain itu, kabel balance atau kabel mikropon diberi tambahan benang – benang katun sebagai filter/ pengisi dan penguat kabel.. Kabel mikropon quad dibuat untuk digunakan pada lingkungan yang noisnya cukup tinggi
Harga kabel ini lebih murah dari kabel mikropon standar, tetapi memiliki daya tolak noise yang lebih besar saat kabel ditarik cukup panjang. Noise timbul sebagai akibat dari induksi di antara kabel positif dan kabel negatif itu sendiri. Oleh karena bentuknya yang quad, induksi tersebut dapat hilang dengan sendirinya. Ditambah lagi diameter kabel positip dan kabel negatip lebih besar. Kabel ini dapat dimanfaatkan untuk rentangan hingga mencapai panjang 100 m dengan hanya sedikit penurunan kualitas.
f.Kabel Snack
Untuk kabel mikropon dalam bentuk kabel snake, bentuknya mirip dengan beberapa kabel mikropon yang digabungkan dan diberi bungkus kembali. Kabel snake ada yang ditujukan untuk penggunaan mobile dan instalasi secara permanen. Perbedaan mendasar ke dua kabel itu sebagai berikut.
Kabel Snake merupakan kumpulan beberapa kabel audio (mikropon) yang dibungkus ulang. Kabel ini biasanya difungsikan untuk menghubungkan input dari panggung ke FOH (Front Of House) atau untuk keperluan instalasi permanen sebuah studio musik
Coaxial Cable Adalah suatu jenis kabel yang menggunakan dua buah konduktor. Pusatnya berupa inti kawat padat yang dilingkupi oleh sekat yang kemudian dililiti lagi dengan kawat berselaput konduktor. Jenis kabel ini biasa digunakan untuk jaringan dengan bandwidth yang tinggi. Kabel coaxial mempunyai pengalir tembaga di tengah (centre core). Lapisan plastik (dielectric insulator)
a. Kabel Yang Dialiri Arus / Kabel Power
• Kabel yang dialiri arus untuk menyalakan perangkat audio
disebut kabel strom kabel power.
• Tanpa kabel strom, perangkat audio sebaik apapun tidak dapat
menyala.
• Sinyal yang melalui kabel strom ini diubah oleh perangkat audio
menjadi sinyal suara. Oleh karena itu kemurnian sinyal yang
dialirkan dengan kabel strom sangat mempengaruhi kualitas
suara yang dihasilkan oleh perangkat audio.
• Faktor yang mengurangi kemurnian sinyal adalah EMI (Electro
Magnetic Interference) dan RFI (Radio Frequency Interference).
Contoh: handphone walaupun dalam posisi standby tetap
mencari sinyal sehingga mengeluarkan RFI.
• Untuk mendapatkan kualitas suara yang baik, mulailah dari
awal yaitu kabel strom yang baik.
b. Kabel Digital
• Kabel yang dialiri oleh sinyal digital disebut kabel digital.
• Sinyal digital diambil dari CD/DVD Player sebelum dikonversi ke
analag oleh DAC (Digital to Analog Converter) dalam head unit.
• Ada 2 jenis kabel digital yang sering digunakan, yaitu: SPDIF dan
TOS-LINK.
• Kabel digital format S-PDIF unggul dalam hal kualitas suara (lebih
berkesan analog) tetapi panjang maximum-nya 2 meter. Apabila
dipaksakan lebih dari 2 meter, maka sinyal digital melalui S-PDIF
cacat dan dapat menyebabkan kerusakan pada head unit
ataupun prosesor.
• Kabel digital format Toslink memang kalah dalam hal kualitas
suara namun panjangnya bisa sampai 6 meter atau bahkan lebih.
c. Kabel Interconnect
• Sinyal analog yang keluar dari prosesor atau head unit adalah
sinyal tegangan rendah atau sering disebut ‘sinyal arus lemah’.
Kabel yang digunakan untuk mengalirkan sinyal arus lemah ini
menuju amplifier disebut kabel interconnect.
• Ada 2 jenis kabel interconnect yang sering digunakan, yaitu kabel
interconnect format Balance dan Unbalance.
• Kabel Unbalance terdiri dari 2 kabel utama, yaitu: kabel untuk
sinyal suara positif dan kabel untuk sinyal suara negatif yang
digabung dengan ground.
• Terminasi kabel unbalance umumnya menggunakan model RCA
namun bisa juga menggunakan model XLR.
• Desain kabel Unbalance lebih sederhana dibandingkan Balance
sehingga banyak digunakan di ‘audio mobil’ dan ‘audio rumah
high-end’.
• Kabel Balance terdiri dari 3 kabel utama, yaitu: kabel untuk sinyal
suara positif, kabel untuk sinyal suara negatif, dan kabel untuk
ground. Oleh karena sinyal suara negatip tidak ‘menumpang’
pada ground. Sinyal suara lebih murni dan tidak mudah
terinduksi. Dengan kata lain, hasil suara kabel balance lebih baik
dibandingkan dengan kabel unbalance.
• Terminasi kabel balance menggunakan model XLR dan tidak bisa
menggunakan model RCA. Keunggulan dari terminasi model XLR
adalah sifat koneksi yang lebih paten dengan sistem ‘click’
• Kabel balance banyak digunakan di ‘pro-audio’ (untuk panggung
atau cafĂ©) dan mulai digunakan di ‘audio rumah high-end’
maupun ‘audio mobil high-end’.
d. Kabel Speaker
• Sinyal keluaran amplifier adalah sinyal dengan arus tinggi dan
sering disebut ‘sinyal arus kuat’.
• Kabel yang digunakan untuk mengalirkan sinyal arus kuat
disebut kabel speaker.
• Oleh karena kabel speaker mengalirkan sinyal arus kuat, maka
ukuran kabel speaker lebih besar dibandingkan kabel
interconnect.
e.Kabel Mikropon
Kabel untuk mikrofon terdiri dari dua jenis. Begitu juga dengan kabel balance, yaitu kabel mikrofon standar terdiri atas tiga kabel, yaitu shield ( ground/pelindung ), kabel untuk kutub positip, dan kabel untuk kutub negatip. Sedangkan di dalam kabel mikropon quad berisi lima kabel, yakni shield, dua kabel untuk kutub positip dan dua kabel kutub negatip.
Kabel mikropon standard dari canare, seperti L2-T2S, terdiri atas dua kabel dalam berwarna biru putih. Isi kedua kabel tersebut masing-masing 60 kawat tipis. Kedua kabel itu dibungkus dengan rajutan kawat yang cukup rapat, berfungsi menolak noise dari luar. Kabel tipe ini sangat fleksibel dan kuat. Lapisan plastik pembungkus luar kabel terbuatdari PVC ( Polivinyl Chlorida ). Demikian pula untuk pembungkus ke dua kabel bagian dalamnya
Bagi yang baru belajar menyolder kabel, kabel ini cukup baik dan tahan panas. Sehingga, tidak perlu khawatir lapisan kabel tersebut meleleh karena terlalu lama menempelkan solder. Tapi jika terlalu lama, tetap akan meleleh juga. Selain itu, kabel balance atau kabel mikropon diberi tambahan benang – benang katun sebagai filter/ pengisi dan penguat kabel.. Kabel mikropon quad dibuat untuk digunakan pada lingkungan yang noisnya cukup tinggi
Gambar 2-83. Contoh kabel mikropon quad
Harga kabel ini lebih murah dari kabel mikropon standar, tetapi memiliki daya tolak noise yang lebih besar saat kabel ditarik cukup panjang. Noise timbul sebagai akibat dari induksi di antara kabel positif dan kabel negatif itu sendiri. Oleh karena bentuknya yang quad, induksi tersebut dapat hilang dengan sendirinya. Ditambah lagi diameter kabel positip dan kabel negatip lebih besar. Kabel ini dapat dimanfaatkan untuk rentangan hingga mencapai panjang 100 m dengan hanya sedikit penurunan kualitas.
f.Kabel Snack
Untuk kabel mikropon dalam bentuk kabel snake, bentuknya mirip dengan beberapa kabel mikropon yang digabungkan dan diberi bungkus kembali. Kabel snake ada yang ditujukan untuk penggunaan mobile dan instalasi secara permanen. Perbedaan mendasar ke dua kabel itu sebagai berikut.
Kabel Snake merupakan kumpulan beberapa kabel audio (mikropon) yang dibungkus ulang. Kabel ini biasanya difungsikan untuk menghubungkan input dari panggung ke FOH (Front Of House) atau untuk keperluan instalasi permanen sebuah studio musik
Gambar 2-84. Contoh kabel snake
f.Kabel Coaxial Coaxial Cable Adalah suatu jenis kabel yang menggunakan dua buah konduktor. Pusatnya berupa inti kawat padat yang dilingkupi oleh sekat yang kemudian dililiti lagi dengan kawat berselaput konduktor. Jenis kabel ini biasa digunakan untuk jaringan dengan bandwidth yang tinggi. Kabel coaxial mempunyai pengalir tembaga di tengah (centre core). Lapisan plastik (dielectric insulator)
Gambar 2-85. Penampang yang mengelilingi tembaga kabel coaxial
berfungsi sebagai penguat di antara tembaga dan “metal shielded“. Lapisan metal berfungsi untuk menghalangi sembarang gangguan luar dari lampu kalimantang, motor, dan perlatan elektonik lain. Lapisan paling luar adalah lapisan plastik yang disebut Jacket plastic. Lapisan ini berfungsi seperti jaket yaitu sebagai pelindung bagian terluar. Jumat, 16 Maret 2012
Konektor Sound System
Konektor atau sering disebut jack, pin, spade dan banana sebagai ujung tombak kabel audio, berperan penting. Semakin baik bahan konduktor yang digunakan konektor semakin baik pula tingkat efiensi transmisi sinyal audionya. Jenis konektor yang sering digunakan dalam sistim audio adalah RCA, XLR,Tusuk TOA (Mono/Stereo), Mini (Stereo/Mono), Speakon, SPDIF.
a. RCA
Konektor RCA banyak digunakan di perumahan. Konektor ini tersedia male dan female. Yang ada di dalam box pesawat adalah female. Hampir setiap peralatan audio visual menggunakan RCA sebagai terminal outputnya. Ujung konektor sebagai kutub positif sedangkan sisi luarnya sebagai ground. Dalam kehidupan sehari-hari, konektor ini biasanya berwarna kuning, putih atau hitam dan merah.
b. XLR
Konektor XLR biasa disebut juga jack canon. Konektor ini mempunyai 3 kaki, yaitu kaki 1 untukground, kaki 2 untuk positif dan kaki 3 untuk negative. Konektor ini tersedia male dan female. Yang ada di dalam box pesawat adalah female Untuk hubungan balance, ketiga kaki tersebut harus dihubungkan terpisah, dengan kata lain memakai 3 kabel. Untuk hubungan un-balance, kaki 3 dapat disambungkan dengan kaki 1
c.Tusuk Toa
Konektor jenis ini mempunyai karakteristik seperti RCA, hanya saja bentuknya berbeda. Jadi ujung
konektor untuk positif sedangkan lainnya sebagai ground. Konektor ini ada dua jenis, yaitu mono dan stereo
d.. Mini Jack
Mini jack sama dengan konektor tusuk TOA, hanya saja bentuknya lebih kecil atau mini.
e.Konektor Speakon
Speakon adalah konektor yang digunakan untuk koneksi speaker, bentuknya seperti XLR tetapi lebih besar, konektor ini tersedia male dan female.
Gambar 2-82. Cara instalasi konektor speakon
f. SPDIF
Sony/Philips Digital Interface Format disingkat S/PDIF adalah
koleksi perangkat keras dan protokol level rendah untuk
pengiriman sinyal audio digital antara perangkat dan komponen
stereo. Format ini dikembangkan oleh Sony dan Philips. S/PDIF
dikenal sebagai format audio yang digunakan untuk
mengkoneksikan antar perangkat audio digital tanpa harus
mengkonversikan dulu ke dalam bentuk analog. Konektor ini bias
berbentuk RCA dan konektor tusuk dengan pin 5 atau 7
a. RCA
Konektor RCA banyak digunakan di perumahan. Konektor ini tersedia male dan female. Yang ada di dalam box pesawat adalah female. Hampir setiap peralatan audio visual menggunakan RCA sebagai terminal outputnya. Ujung konektor sebagai kutub positif sedangkan sisi luarnya sebagai ground. Dalam kehidupan sehari-hari, konektor ini biasanya berwarna kuning, putih atau hitam dan merah.
b. XLR
Konektor XLR biasa disebut juga jack canon. Konektor ini mempunyai 3 kaki, yaitu kaki 1 untukground, kaki 2 untuk positif dan kaki 3 untuk negative. Konektor ini tersedia male dan female. Yang ada di dalam box pesawat adalah female Untuk hubungan balance, ketiga kaki tersebut harus dihubungkan terpisah, dengan kata lain memakai 3 kabel. Untuk hubungan un-balance, kaki 3 dapat disambungkan dengan kaki 1
Gambar 2-75.Konektor XLR
c.Tusuk Toa
Konektor jenis ini mempunyai karakteristik seperti RCA, hanya saja bentuknya berbeda. Jadi ujung
konektor untuk positif sedangkan lainnya sebagai ground. Konektor ini ada dua jenis, yaitu mono dan stereo
Gambar 2-78. Konektor ¼” unbalance (tusuk toa)
d.. Mini Jack
Mini jack sama dengan konektor tusuk TOA, hanya saja bentuknya lebih kecil atau mini.
Gambar 2-81.
e.Konektor Speakon
Speakon adalah konektor yang digunakan untuk koneksi speaker, bentuknya seperti XLR tetapi lebih besar, konektor ini tersedia male dan female.
Gambar 2-82. Cara instalasi konektor speakon
f. SPDIF
Sony/Philips Digital Interface Format disingkat S/PDIF adalah
koleksi perangkat keras dan protokol level rendah untuk
pengiriman sinyal audio digital antara perangkat dan komponen
stereo. Format ini dikembangkan oleh Sony dan Philips. S/PDIF
dikenal sebagai format audio yang digunakan untuk
mengkoneksikan antar perangkat audio digital tanpa harus
mengkonversikan dulu ke dalam bentuk analog. Konektor ini bias
berbentuk RCA dan konektor tusuk dengan pin 5 atau 7
Sabtu, 10 Maret 2012
Array
Array speaker merupakan teknologi terbaru dan diyakini lebih baik oleh para sound engineer untuk saat ini. Karakteristik speakernya sama dengan high and medium kabinet hanya saja memposisikannya yang berbeda. Array speaker ini dipasang dalam sebuah mountain rak kemudian di derek keatas untuk memperoleh bidang jangkauan (Range) suara yang lebih luas.
Gambar 2-73. Susunan Speaker
Tabel 2-3 Perbandingan susunan array dan konvensiaonal (groundstack)
Tabel 2-3 Perbandingan susunan array dan konvensiaonal (groundstack)
Array Speaker Range suara lebih luas,Rentan terjadi tabrakan frekuensi
Konvensional Range suara terbatas, Jarang terjadi tabrakan frekuens
Fill in Speaker
Untuk pemakaian di panggung, speaker ini berfungsi sebagai monitor oleh pembawa acara atau pemain musik yang tampil. Fill in speaker juga merupakan istilah yang sering dipakai untuk menyebut speaker tunda (delay) yaitu speaker yang dipasang untuk menjangkau audien diluar jangkauan speaker inti. Speaker ini mempunyai karakter sama dengan speaker inti foh, hanya saja power yang lebih kecil dan phase ditunda untuk menyesuaikan jarak audien.
Gambar 2-71. Ilustrasi fill in speaker
Kamis, 08 Maret 2012
Speaker Monitor
Sama dengan karakteristik yang dimiliki oleh Full Range tetapi fungsinya sebagai monitor pemain musik yang sedang beraksi. Desain box dibuat khusus sehingga bisa diposisikan menghadap ke pemain musik. Walaupun ada juga yang mempunyai bentuk konvensional seperti box speaker pada umumnya. Monitor speaker ini disebut juga Fill in.
Gambar 2-70. Box monitor
Gambar 2-70. Box monitor
Rabu, 07 Maret 2012
Full Range
Gambar 2-69. Contoh box speaker fullrange
Speaker jenis ini mampu menghasilkan suara yang merata antara 20Hz sampai sekitar 19KHz. Sangat cocok untuk menghasilkan suara dari Vokalis, MC dll
Selasa, 06 Maret 2012
Sub Wofer
Gambar 2-68. Salah satu model box response subwoofer (www.nexo.com)
diantara 32Hz-80Hz. Speaker jenis ini cocok untuk menghasilkan nada-nada sangat rendah seperti bas drum, bas gitar dsb.
diantara 32Hz-80Hz. Speaker jenis ini cocok untuk menghasilkan nada-nada sangat rendah seperti bas drum, bas gitar dsb.
Senin, 05 Maret 2012
Kabinet Woofer
Jenis ini sangat baik untuk menghasilkan suara bas dan bas menengah seperti tom-tom, beduk, bas gitar, dll.
2.19.3.2. Sub Woofer Speaker jenis ini menghasilkansuara lebih rendah darI Frekuensi woofer.
2.19.3.2. Sub Woofer Speaker jenis ini menghasilkansuara lebih rendah darI Frekuensi woofer.
Minggu, 04 Maret 2012
Kabinet tinggi dan menengah
Jenis ini sangat baik untuk menghasilkan suara dengan frekuensi 1KHz keatas sampai 19Khz antara lain suara gitar, snare drum, vokal dan simbal
Gambar 2-67. Contoh Box woofer frekuensi tinggi
Gambar 2-67. Contoh Box woofer frekuensi tinggi
OUTPUT (Loudspeaker)
Muara dari sebuah sistim audio adalah speaker. Speaker mempunyai fungsi mengubah sinyal elektric menjadi mekanis sehingga dapat menimbulkan suara. Dalam sistim audio, penggunan Loudspeaker sudah terintegerasi kedalam Box sesuai dengan karakteristiknya masing masing.
Speaker- speaker tersebut bertugas mengeluarkan suara menurut karakteristik frekuensi kerjanya. Berikut macam-macam loudspeaker menurut karakteristik dan
Speaker- speaker tersebut bertugas mengeluarkan suara menurut karakteristik frekuensi kerjanya. Berikut macam-macam loudspeaker menurut karakteristik dan
Gambar 2-65. Box loudspeaker kegunaannya: (www.qsc.com)
Sabtu, 03 Maret 2012
Audio Amplifier
Amplifier atau power amplifier berfungsi untuk menguatkan sinyal audio setelah mengalami proses. Sinyal yang diterima akan dikuatkan untuk kemudian di umpankan ke loud speaker.
Gambar 2-64. Power amplifier (www.behringer.com)
Kamis, 01 Maret 2012
LMS (Loud speaker Management Sistem)
Loud speaker Management Sistem merupakan pengembangan dari crossover aktif, fungsi sama, yang berbeda adalah sistem controlnya.
Gambar 2-63. Loud speaker Management Sistem
Earphone Distributor
Sama dengan Audio distributor, hanya yang digandakan adalah output earphone/headphone. Alat ini digunakan untuk keperluan monitoring.
Gambar 2-61. Powerplay earphone distributor (www.behringer.com)
Rabu, 29 Februari 2012
CrossOver
CrossOver berfungsi untuk memisahkan sinyal suara menurut frekuensi respon speaker. Pada jaman dahulu, crossover berupa rangkaian pasif yang terdiri dari R-L-C yang dipasang sesudah power amplifier. Untuk sekarang telah berkembang crossover aktif. Crossover aktif dipasang sebelum power amplifier, dalam hal ini pemisahan frekuensi lebih baik tetapi boros dalam penggunaan power amplifier.
Selasa, 28 Februari 2012
Audio Distributor
Audio distributor digunakan untuk mendistribusikan sinyal audio. Fungsinya adalah untuk menggandakan output dari mixer dan mengurangi loss akibat percabangan.
Senin, 27 Februari 2012
RTA (Real Time Analyzer)
RTA adalah alat untuk memonitor frekuensi suara secara real time. RTA digunakan untuk mencari kesalahan kesalahan frekuensi dalam menset sistem audio. RTA akan memberikan informasi berupa gafik frekuensi. Dari alat ini kita bisa mengetahui frekuensi frekuensi noise atau frekuensi yang yang perlu di bost dan di cut.
Audio RTA mempunyai built in mikropon yang flat untuk menerima sinyal suara dari luar. Jadi, RTA bersifat independent tidak terhubung pada sistem audio melalui jaringan kabel.
Audio RTA mempunyai built in mikropon yang flat untuk menerima sinyal suara dari luar. Jadi, RTA bersifat independent tidak terhubung pada sistem audio melalui jaringan kabel.
Gambar 2-59.Tampilan Software RTA dari Jk
Minggu, 26 Februari 2012
Feedback Destroyed
Feedback Destroyed berfungsi untuk mencegah feedback pada mikropon Penggunaan alat ini bersifat opsional, tidak wajib,karena alat ini dapat menurunkan dB. Alat ini digunakan hanya pada situasi sistem audio yang memungkinkan banyak terjadi feedback.
Gambar 2-60. Anti feedback (www.behringer.com)
Sabtu, 25 Februari 2012
Audio Expander
Audio Expander adalah pesawat audio tambahan untuk membooster frekuensi tertentu. Pesawat audio ini digunakan ketika suara asli kurang dapat diolah atau sang enginer ingin merubah warna input tersebut.
Jumat, 24 Februari 2012
Audio Compressor
Compressor adalah sebuah alat yang termasuk dalam kategori “gain based”. Sewaktu menyetel parameter-parameter yang terdapat pada sebuah unit compressor, digunakan satuan dalam dB. Compressor berguna untuk membuat sinyal lebih rata atau stabil.
Dahulu sewaktu rekaman di pita analog, ketika seorang Sound Engineer merekam material yang memiliki perubahan dinamika tinggi, maka dia akan menurunkan volume sehingga bagian yang berdinamika kuat tidak mengakibatkan distorsi. Masalahnya, ketika volume diturunkan, maka bagian yang lembut dekat pada noise floor, menjadi tak terdengar jelas karena tertutup oleh suara seperti “shhhhhh”. Dengan menggunakan compressor, maka sound engineer dapat menstabilkan materi sehingga volume keseluruhan dapat diangkat dan mengurangi tape noise.
Contoh lain adalah penggunaan compressor pada vocal. Mari dibayangkan apabila dimixing sebuah lagu yang hanya terdiri dari vocal, sedangkan musiknya berasal dari keyboard atau organ tunggal. Dapat diketahui bahwa musik organ tunggal memiliki dinamika yang konstan, sehingga akan menjadi masalah apabila vocalnya memiliki dinamika yang lebar.
Misalnya penyanyi berbisik pada intro, lalu menyanyi dengan kencang pada bagian reff. Apabila dibalance musik dan vocal berdasarkan saat ref, maka ketika intro vocal tak akan kedengaran karena penyanyi berbisik. Begitu juga apabila dibalance musik dan vocal berdasarkan saat intro, maka saat ref musik akan tertutup karena vocalist menyanyi dengan kencang / berteriak.
Dengan menggunakan compressor, Sound Engineer dapat menstabilkan vocal tersebut sehingga dapat “masuk/menempel” dengan baik pada musik organ tunggal. Untuk rekaman, Compressor juga dapat digunakan “sebelum” sinyal masuk ke tape / hard disk. Untuk aplikasi ini, Compressor berguna untuk menjaga sinyal yang masuk agar tidak sampai terjadi digital clipping. Yang masih termasuk dari kategori compressor antara lain: Limiter : outputnya konstan, tidak perduli besar kecilnya sinyal yang masuk / sinyal tak diperkenankan melewati threshold yang ada. Brick Wall Limiter : limiter yang banyak digunakan pada saat mastering untuk menaikkan volume keseluruhan dari sebuah materi audio. Frequency Selected Compressor
: bekerja pada satu band frequency yang telah ditentukan. Contohnya adalah deesser. Deesser bekerja

Apabila digunakan dengan baik dan benar, sebagian besar pendengar awam tak akan menyadari bahwa compressor telah digunakan. Telinga manusia cenderung lebih peka terhadap perubahan pitch dari pada perubahan amplitudo. Umumnya, sound engineer mengerti musik. Tentu dapat mengerti, selain nada dan irama, perubahan dinamika atau keras lembutnya sebuah lagu sangat mempengaruhi keindahan dari lagu tersebut. Apalagi untuk lagu klasik, inilah yang akan dicoba untuk dipertahankan.
Secara garis umum ada 5 buah parameter yang dapat di atur, yaitu: threshold, ratio, attack time, release time, dan output/gain. Dari ke 5 parameter ini, dibagi menjadi dua bagian yaitu, threshold dan ratio. Selanjutnya attack time dan release time. Pertama-tama dibahas soal threshold dan ratio.
o Threshold adalah satu point dimana apabila sebuah sinyal melewati titik ini, maka compressor akan mulai bekerja. Pemakailah yang menentukan threshold ini. Sebagai contoh, apabila threshold diatur pada -20 dB, maka semua sinyal yang melewati -20 dB akan di proses. Sinyal yang tak melewati tak akan di proses.
o Ratio adalah perbandingan atau jumlah dari kompresi yang akan dikenakan kepada sinyal audio yang melewati batas threshold. Misalkan ratio di set pada perbandingan 3:1 dan threshold -20 dBFS. Apabila sinyal berada pada -14, berarti melewati threshold dengan jumlah 6 dB. Lalu akan di kompress dengan perbandingan 3:1. Maka akan didapat hasilnya. Nah ini yang ditambahkan pada threshold yang -20 dB tadi. Hasil akhirnya adalah -18 dB.
o Attack time menentukan berapa lamanya compressor “menunggu sebelum mulai bekerja” setelah ia mendeteksi adanya sinyal yang melewati threshold. Seperti dilihat pada gambar diatas, setiap instrument memiliki “Sound Envelope” yang berbeda. Jika attack time diset “fast”, maka compressor akan melihat dan bereaksi pada hampir setiap sinyal yang melewati threshold. Contoh : saat menggunakan compressor pada track drum. Apabila attack time di set cepat, maka compressor akan bereaksi terhadap setiap pukulan drum. Ketika merubah attack time to “slow”, maka compressor tak akan bereaksi terhadap sinyal berdurasi pendek.
o Release time menentukan berapa lamanya si compressor “menunggu sebelum berhenti bekerja” setelah ia mendeteksi bahwa sinyal audio sudah tak lagi berada di atas threshold. Bisa juga diartikan waktunya sebelum compressor kembali ke normal (sebelum dia bekerja)
o Make up gain, atau output. Ketika sebuah sinyal di compress,
maka otomatis amplitudenya akan berkurang. Output ini berguna untuk menambah “Gain” dari sinyal audio anda yang sudah di kompres.
Beberapa Compressor memiliki pengaturan yang disebut Hard Knee atau Soft Knee. Perbedaannya adalah, pada Hard Knee ketika sinyal masih di bawah threshold, sama sekali tidak dicompress. Begitu melewati threshold, maka compressor langsung bekerja. Pada soft knee, ketika sinyal mulai mendekati threshold maka compressornya mulai bekerja. Beberapa kesalahan yang banyak ditemui pada saat mengatur compressor :
• Thresholdnya di set ke 0
• Ratio di set ke 1 meng-compress instrument perkusi
• Attack terlalu besar saat
Cara cepat untuk mengeset compressor:
• Set Ratio 3:1
• Set Attack Time 12 ms, Release Time 50 ms atau Auto
• Perlahan-lahan turunkan thresholdnya sehingga didapat Gain Reduction antara 4 s/d 8 dB.
Panduan menentukan parameter compressor:
• Jenis instrument dipakai untuk menentukan attack dan release Time
• Teknik bermain atau dynamic range dipakai untuk menentukan ration dan gain reduction.
Panduan perbandingan dB saat mengcompress dan mixing :
• +1 dB artinya bertambah 12%
• +3 dB artinya bertambah 40%
• +6 dB artinya dua kali lipat lebih kencang ( bertambah 100% )
• -1 dB artinya 90% dari original SPL
• -3 dB artinya 70% dari original SPL
• -6 dB artinya setengah dari original SPL.
2.19.2.5. Multigate
Gate bisa dianalogikan sebagai volume control otomatis. Ketika menerima trigger berupa suara, maka volume akan terbuka, dan ketika suara tidak ada, maka volume akan di tutup lagi begitu sinyal itu di bawah titik-batas yang di tentukan.
• Titik batas yang ditentukan disebut treshold
• Seberapa cepat volume dibuka disebut attack
• Seberapa cepat volume itu ditutup kembali disebut Release
• Volume tidak sepenuhnya mati disebut Range
Multigate biasa dipasang di drum sebagi noisegate. Misal
dipasang di bass drum, ketika bass tidak dibunyikan, maka tidak ada
suara yang dilewatkan, tetapi ketika dibunyikan maka volume akan
otomatis terbuka.
Fungsi lain adalah sebagai trigger. Misal dipasang pada snare drum, ketika snare dipukul maka akan mentrigger efek (synthesizer) dan bersamaan akan mengeluarkan bunyi efek yang diinginkan. Synthesizer adalah sebuah perangkat yang berfungsi untuk mensintesa suara sederhana ke dalam bentuk yang lebih kompleks. Ada dua jenis Synthesizer yang pertama Frequency Modulation (FM) Synthesizer lalu yang kedua adalah Wave Tabel (WT) Synthesizer. FM Synthesizer menggunakan modulasi frekuensi untuk menyintesiskan suara. Wave Tabel Synthesizer adalah perangkat yang lebih mahal dibandingkan FM Synthesizer. Sebab WT Synthesizer memiliki lebih banyak memiliki sampel dari berbagai macam suara instrumen asli yang disimpan dalam ROM-nya. Jumlah ROM dan kompresi yang dimilikinyalah yang membuat WT
Dahulu sewaktu rekaman di pita analog, ketika seorang Sound Engineer merekam material yang memiliki perubahan dinamika tinggi, maka dia akan menurunkan volume sehingga bagian yang berdinamika kuat tidak mengakibatkan distorsi. Masalahnya, ketika volume diturunkan, maka bagian yang lembut dekat pada noise floor, menjadi tak terdengar jelas karena tertutup oleh suara seperti “shhhhhh”. Dengan menggunakan compressor, maka sound engineer dapat menstabilkan materi sehingga volume keseluruhan dapat diangkat dan mengurangi tape noise.
Contoh lain adalah penggunaan compressor pada vocal. Mari dibayangkan apabila dimixing sebuah lagu yang hanya terdiri dari vocal, sedangkan musiknya berasal dari keyboard atau organ tunggal. Dapat diketahui bahwa musik organ tunggal memiliki dinamika yang konstan, sehingga akan menjadi masalah apabila vocalnya memiliki dinamika yang lebar.
Misalnya penyanyi berbisik pada intro, lalu menyanyi dengan kencang pada bagian reff. Apabila dibalance musik dan vocal berdasarkan saat ref, maka ketika intro vocal tak akan kedengaran karena penyanyi berbisik. Begitu juga apabila dibalance musik dan vocal berdasarkan saat intro, maka saat ref musik akan tertutup karena vocalist menyanyi dengan kencang / berteriak.
Dengan menggunakan compressor, Sound Engineer dapat menstabilkan vocal tersebut sehingga dapat “masuk/menempel” dengan baik pada musik organ tunggal. Untuk rekaman, Compressor juga dapat digunakan “sebelum” sinyal masuk ke tape / hard disk. Untuk aplikasi ini, Compressor berguna untuk menjaga sinyal yang masuk agar tidak sampai terjadi digital clipping. Yang masih termasuk dari kategori compressor antara lain: Limiter : outputnya konstan, tidak perduli besar kecilnya sinyal yang masuk / sinyal tak diperkenankan melewati threshold yang ada. Brick Wall Limiter : limiter yang banyak digunakan pada saat mastering untuk menaikkan volume keseluruhan dari sebuah materi audio. Frequency Selected Compressor
: bekerja pada satu band frequency yang telah ditentukan. Contohnya adalah deesser. Deesser bekerja

Gambar 2-56. Audio Compressor
pada frequency sekitar 5 – 8 kHz yang telah terpasang pada rak Audio dan berguna untuk menekan bunyi desis pada vocal Multi Band Compressor : banyak digunakan untuk mastering. Beberapa compressor dijadikan satu, tiap compressor menangani frekuensi atau bandwith yang berbeda secara independent. Tiap bandwith dapat memiliki pengaturan attack, release , ratio dan threshold yang berbeda. Misalnya jika memiliki MBC yang dibagi 3, maka dapat di set : satu untuk meng-compress frekuensi rendah, satu untuk mid, dan satu untuk high frequency. Apabila digunakan dengan baik dan benar, sebagian besar pendengar awam tak akan menyadari bahwa compressor telah digunakan. Telinga manusia cenderung lebih peka terhadap perubahan pitch dari pada perubahan amplitudo. Umumnya, sound engineer mengerti musik. Tentu dapat mengerti, selain nada dan irama, perubahan dinamika atau keras lembutnya sebuah lagu sangat mempengaruhi keindahan dari lagu tersebut. Apalagi untuk lagu klasik, inilah yang akan dicoba untuk dipertahankan.
Secara garis umum ada 5 buah parameter yang dapat di atur, yaitu: threshold, ratio, attack time, release time, dan output/gain. Dari ke 5 parameter ini, dibagi menjadi dua bagian yaitu, threshold dan ratio. Selanjutnya attack time dan release time. Pertama-tama dibahas soal threshold dan ratio.
o Threshold adalah satu point dimana apabila sebuah sinyal melewati titik ini, maka compressor akan mulai bekerja. Pemakailah yang menentukan threshold ini. Sebagai contoh, apabila threshold diatur pada -20 dB, maka semua sinyal yang melewati -20 dB akan di proses. Sinyal yang tak melewati tak akan di proses.
o Ratio adalah perbandingan atau jumlah dari kompresi yang akan dikenakan kepada sinyal audio yang melewati batas threshold. Misalkan ratio di set pada perbandingan 3:1 dan threshold -20 dBFS. Apabila sinyal berada pada -14, berarti melewati threshold dengan jumlah 6 dB. Lalu akan di kompress dengan perbandingan 3:1. Maka akan didapat hasilnya. Nah ini yang ditambahkan pada threshold yang -20 dB tadi. Hasil akhirnya adalah -18 dB.
o Attack time menentukan berapa lamanya compressor “menunggu sebelum mulai bekerja” setelah ia mendeteksi adanya sinyal yang melewati threshold. Seperti dilihat pada gambar diatas, setiap instrument memiliki “Sound Envelope” yang berbeda. Jika attack time diset “fast”, maka compressor akan melihat dan bereaksi pada hampir setiap sinyal yang melewati threshold. Contoh : saat menggunakan compressor pada track drum. Apabila attack time di set cepat, maka compressor akan bereaksi terhadap setiap pukulan drum. Ketika merubah attack time to “slow”, maka compressor tak akan bereaksi terhadap sinyal berdurasi pendek.
o Release time menentukan berapa lamanya si compressor “menunggu sebelum berhenti bekerja” setelah ia mendeteksi bahwa sinyal audio sudah tak lagi berada di atas threshold. Bisa juga diartikan waktunya sebelum compressor kembali ke normal (sebelum dia bekerja)
o Make up gain, atau output. Ketika sebuah sinyal di compress,
maka otomatis amplitudenya akan berkurang. Output ini berguna untuk menambah “Gain” dari sinyal audio anda yang sudah di kompres.
Beberapa Compressor memiliki pengaturan yang disebut Hard Knee atau Soft Knee. Perbedaannya adalah, pada Hard Knee ketika sinyal masih di bawah threshold, sama sekali tidak dicompress. Begitu melewati threshold, maka compressor langsung bekerja. Pada soft knee, ketika sinyal mulai mendekati threshold maka compressornya mulai bekerja. Beberapa kesalahan yang banyak ditemui pada saat mengatur compressor :
• Thresholdnya di set ke 0
• Ratio di set ke 1 meng-compress instrument perkusi
• Attack terlalu besar saat
Cara cepat untuk mengeset compressor:
• Set Ratio 3:1
• Set Attack Time 12 ms, Release Time 50 ms atau Auto
• Perlahan-lahan turunkan thresholdnya sehingga didapat Gain Reduction antara 4 s/d 8 dB.
Panduan menentukan parameter compressor:
• Jenis instrument dipakai untuk menentukan attack dan release Time
• Teknik bermain atau dynamic range dipakai untuk menentukan ration dan gain reduction.
Panduan perbandingan dB saat mengcompress dan mixing :
• +1 dB artinya bertambah 12%
• +3 dB artinya bertambah 40%
• +6 dB artinya dua kali lipat lebih kencang ( bertambah 100% )
• -1 dB artinya 90% dari original SPL
• -3 dB artinya 70% dari original SPL
• -6 dB artinya setengah dari original SPL.
2.19.2.5. Multigate
Gate bisa dianalogikan sebagai volume control otomatis. Ketika menerima trigger berupa suara, maka volume akan terbuka, dan ketika suara tidak ada, maka volume akan di tutup lagi begitu sinyal itu di bawah titik-batas yang di tentukan.
• Titik batas yang ditentukan disebut treshold
• Seberapa cepat volume dibuka disebut attack
• Seberapa cepat volume itu ditutup kembali disebut Release
• Volume tidak sepenuhnya mati disebut Range
Multigate biasa dipasang di drum sebagi noisegate. Misal
dipasang di bass drum, ketika bass tidak dibunyikan, maka tidak ada
suara yang dilewatkan, tetapi ketika dibunyikan maka volume akan
otomatis terbuka.
Gambar 2-57. Audio multigate (www.behringer.com)
Fungsi lain adalah sebagai trigger. Misal dipasang pada snare drum, ketika snare dipukul maka akan mentrigger efek (synthesizer) dan bersamaan akan mengeluarkan bunyi efek yang diinginkan. Synthesizer adalah sebuah perangkat yang berfungsi untuk mensintesa suara sederhana ke dalam bentuk yang lebih kompleks. Ada dua jenis Synthesizer yang pertama Frequency Modulation (FM) Synthesizer lalu yang kedua adalah Wave Tabel (WT) Synthesizer. FM Synthesizer menggunakan modulasi frekuensi untuk menyintesiskan suara. Wave Tabel Synthesizer adalah perangkat yang lebih mahal dibandingkan FM Synthesizer. Sebab WT Synthesizer memiliki lebih banyak memiliki sampel dari berbagai macam suara instrumen asli yang disimpan dalam ROM-nya. Jumlah ROM dan kompresi yang dimilikinyalah yang membuat WT
Gambar 2-58. Ultracurve Synthesizer lebih mahal.(www.behringer.com)
Namun, suara yang dihasilkan dengan Synthesizer ini lebih kaya dibandingkan FM Synthesizer). 






















